tukang fotokopi yang berhati mulia

Selasa, Januari 12, 2010

Hari ini selasa, 12 januari 2010 saya mendapatkan pengalaman yang cukup menarik. Pengalaman ini bermula ketika saya sedang akan memotong label untuk pameran DKV di siang harinya. Lalu teman saya yang bernama Didi merekomendasikan tempat fotokopian yang mau menerima jasa pemotongan kertas. Mendapat saran dari Didi sayapun langsung berangkat ke tempat fotokopian tersebut bersama Didi sebagai penunjuk jalan dan kebetulan ia juga mau menjilid sebuah buku titipan temannya. Di jalan saya membayangkan label tersebut akan dipotong menggunakan alat pemotong kertas dan tidak akan memakan waktu yang lama dibandingkan jika dipotong satu persatu menggunakan guntng atau cutter.

Ditengah hujan yang mulai turun sampailah ke tempat fotokopian tersebut, sebuat tempat fotokopian berukuran kecil ( menggunakan bagian kecil sebuah rumah) dan dijaga dua orang. Lalu Didi menyampaikan maksud dan tujuannya ke tukang fotokopi, yaitu menjilid buku dan memotong label. Dikerjakanlah kedua permintaan yang tadi diberikan penjaga satu menjilid buku dan penjaga yang satunya lagi memotong label. Lalu setelah beberapa menit saya melihat ada yang aneh yaitu alat pemotong kertas belum digunakan. Sayapun bertanya pada didi apakah ketika ia memotongkan cover cdnya tadi menggunakan alat atu tidak, dan ia menjawab iya. karena merasa ada yang tidak sesuai dengan bayangan, saya meminta Didi untuk mengecek apa yang digunakan untuk memotong label tersebut. Ternyata petugas tadi memotongnya menggunakan cutter selembar demi selembar. ketika itu saya pikir bahwa hal tersebut sama saja dengan di kampus tadi dan malah lebih baik dikerjakan di kampus saja karena terdapat banyak tenaga.

Saya pun bediskusi dengan Didi apakah akan meminta petugas tadi berhenti memotong atau tidak. Setelah dipertimbangkan saya dan Didi memutuskan untuk membiarkan petugas tadi memotongi label sambil menunggu buku tadi selesai dijilid dan hujan berenti. penjilidan buku yang lama ( karena disambi-sambi), hujan yang tidak kunjung reda, dan sms dari teman2 yang menanyakan label saya dan didi berinisiatif untuk membantu petugas fotokopian untuk memotong label yang berlembar-lembar tersebut. Setelah beberapa lama, hujan pun berhenti dan jadilah buku yang ingin dijilid tadi dan itu berarti saya dan didi harus segera ke kampus untuk menyerahkan label yang sudah dipotong dan beberapa lembar label yang dipotong agar dikerjakan teman-teman saja di kampus. didipun menanyakan kepada petugas fotokopian berapa yang harus dibayar untuk semua ini. saya membayangkan harus membayar banyak untuk ini semua, ternyata hal itu tidak terjadi malah petugas fotokopian meyuruh didi untuk membayar seikhlasnya saja. didipun menanyakan pada saya berapa yang harus dibayar untuk penjilidan buku dan pemotongan label yang berlembar-lembar tersebut. lalu saya sarankan untuk memberi 5000 rupiah, tetapi didi tidak punya uang 5000an yang ia punya 10000an dan pecahan puluh ribuan lainnya. Berhubung saya juga tidak punya uang ribuan juga, saya sarankan untuk memberikan 10000 pada petugas foto kopian sebagai bayaran atas penjilidan buku dan pemotongan label.
Didipun menyerahkan uang 10000 pada tukang fotokopi, tapi apa yang terjadi? tukang foto kopi bukannya menyimpan uang 10000 tersebut tetapi malah menyuruh didi memasukkan uang 10000 tersebut pada kotak shodaqoh pembangunan masjid/semacamnya yang terletak di etalase toko. Hal tersebut membuat saya kaget dan kagum pada kedua tukang fotokopi tersebut. disaat banyak orang lain yang hanya memikirkan uang untuk keduniawian sebaliknya orang tersebut masih menyisihkan sebagian hartanya untuk kegiatan amal.

You Might Also Like

0 comments

Like us on Facebook