Masakan Rumah

Jumat, Oktober 10, 2014



Enam tahun yang lalu pada tahun 2008 tepatnya, saya memasuki masa kuliah. Kebetulan saya berkuliah di kota yang sama dengan tempat tinggal saya, Jogja. Saya nggak perlu ngekos dan bisa tinggal dengan nyaman di rumah.

Di sana saya bertemu dengan teman-teman dari berbagai kota. Hampir sebagian besar dari mereka tinggal di kosan. Ketika saya berkenalan dengan mereka dan mengatkan bahwa saya asli jogja dan tinggal di rumah, banyak yang berkomentar "Wah enak ya tinggal di rumah, makanan terjamin." atau "wah enak ya bisa makan makanan rumah tiap hari".

Saat itu saya ngerasa biasa aja. Nggak ada yang spesial dari masakan rumah. Bahkan cenderung bosan, karena masakannya itu-itu aja.

Lima tahun kemudian saya memutuskan untuk hijrah ke Jakarta, mengejar mimpi yang saya idam-idamkan sejak kuliah. Sejak saat itu pula saya tinggal di kos dan hidup mandiri.

Berhubung di kosan saya nggak ada dapur, untuk urusan makan saya bergantung pada warteg dekat kosan. Meskipun rasanya nggak sempurna, tapi oke lah buat mengganjal perut. Apa lagi buat kantong pekerja yang sedang merintis karir seperti saya.

Awalnya nggak ada masalah dengan makan di luar. Seminggu sekali bisa lah makan makanan yang agak mahal dikit. Kemudian masalah datang ketika saya jatuh sakit. Dengan keadaan saya yang sedang sakit sungguh sangat tidak enak harus keluar kamar buat beli makan. Belum lagi makanan yang beli di luar nggak terjamin kebersihan dan kesehatannya. Pokoknya harus banyak-banyak baca bismillah deh.

Di kondisi ini saya sadar betapa nikmatnya bisa makan masakan rumah dan nggak perlu beli di luar. Saya jadi teringat ucapan teman saya sewaktu perkenalan mahasiswa baru enam tahun lalu "tinggal di rumah ya? wah enak ya bisa makan masakan rumah."

You Might Also Like

2 comments

  1. belum sampe level anak kos yang makan indomie mentah saking malesnya keluar cari makan to mas? :p

    BalasHapus
    Balasan
    1. belum sih...tapi itu bisa aja terjadi u.u

      Hapus

Like us on Facebook