Berapa waktu yang lalu tersiar kabar bahwa jurusan komunikasi UI mengadakan sejenis lomba iklan untuk kalangan mahasiswa. Dilomba tersebut mahasiswa diminta untk melakukan sesuatu untuk meredam persepsi negatif terhadap sesuatu yang diprasangkai tersebut.Sayapun tertarik utnuk mengikuti kompetisi ini lumayan hadiahnya magang di advertising agency di jakarta.Dalam kompetisi ini saya menggandeng kawan saya Aswin Mustafidz untuk diajak bekerjasama membuat sebuah kampanye untuk meredam persepsi negatif tersebut.
Dengan target primer diri sendiri membuat saya bingung harus melakukan apa selain itu, saya juga bingung persepsi negatif apa yang mau diredam karena saya dan kawan saya modelnya bisa menerima keadaan dengan pikiran postif, lalu saya medapat ide bagaimana jika mencoba mengubah persepsi mahasiswa tentang seorang dosen/ kelasnya, kebetulan ditempat saya ada seorang dosen yang banyak mendapat persepsi negatif dari mahasiswanya. Kalo kata teman-teman saya yang pernah mengambil kelas dosen tesrebut dosen tersebut suka memberikan kritikan hingga hal-hal yang sangat detail pada karya yang dibuat mahasiswa. Kabar dari teman-teman saya tersebut otomatis membuat teman-teman saya yang akan mengambil kelas beliau menjadi takut ketika akan mengambil kelas beliau hal tersebut bisa dilihat di timeline twitter di hari-hari menjelang jadwal di kelas beliau. Padahal jika dipikir-pikir apa yang dilakukan dosen tersebut adalah untuk kebaikan mahasiswa sendiri namun sayangnya mahasiswa tidak bisa menerima cara-cara dosen tersebut.
Berdasarkan masalah diatas lalu saya mendapat ide untuk mengubah persepsi teman-teman (dan saya sendiri tentunya) mengenai dosen tersebut. Caranya adalah dengan menggunakan kaos sebagai media komunikasi. Mengapa kaos? Karena kaos adalah salah satu media untuk mengekspresikan diri, dengan demikian diri kita sendiri dapat terpersuasi oleh pesan yang ada dalam kaos tersebut dan orang lain yang melihat juga dapat sadar apa yang dilakukan si dosen adalah untuk kebaikan mereka juga. Kaos tersebut cukup sederhana hanya bertulisakan " lebih baik hari ini dicerca dosen, daripada esok hari dimaki klien". Tujuannya ya seperti yang sudah saya tuliskan tadi, yaitu untuk mempersuasi teman-teman saya agar persepsi tentang dosen tersebut dapat berubah menjadi persepsi positif. Jika mahasiswa sudah bisa berpikir positif maka kelas akan menjadi menyenangkan dan bersemangat tentunya juga akan meciptakan kondisi yang kondusif.
Namun sayang, karena saya jarang sekali berkomunikasi dengan partner saya (jujur saja parter saya belum melihat desain ini) entah sekedar menyakan kelanjutn project ini atau hanya sekedar bertukar pikiran, saya juga agak ragu untuk mengirimkan karya ini ke panitia PEKOM UI 2011. Dan jadilah karya ini tidak jadi saya kirimkan.
Pada suatu malam ditengah rapat kegiatan kampus, saya iseng melakukan hal seperti yang ada di foto ini. Saya pun iseng menanyakan teman-teman saya apakah bisa melakukan hal ini atau tidak, ternyata dari berbagai macam bentuk teman saya tidak ada yang bisa melakukan hal seperti ini. Tampaknya hal ini merupakan hal langka yang patut disyukuri.Tanpaknya ini adalah bakat bawaan keluarga karena dari ketiga saudara saya hanya satu saja yang tidak bisa melakukannya. Saya sendiri mulai mempelajair teknik ini sejak SD waktu itu saya diajari oleh Om saya yg waktu itu masih kuliah, dia menunjukkan hal ini dan saya pun mencobanya karena saya menganggapnya keren.Akhirnya sampai sekarang saya masih bisa melakukan hal ini dengan fasih dan lancar.
Sebenarnya untuk mencoba hal seperti ini gampang-gampang susah yang dibutuhkan hanya ketekunan berlatih dan semangat pantang menyerah. Jika saya bisa, pasti anda semua juga bisa. Ayo dicoba, kalian pasti bisa!!!!
COMMUVAL? aduh apa ya COMMUVAL berhubung saya sedang lapar dan bingung mau menulis apa klik ini aja http://commuvalugm.com/ untuk info lebih lanjut.
Segeralah berpartisipasi siapa tahu anda yang menjadi juara , ingat pepatah " MENYESAL SELALU DATANG DIKEMUDIAN HARI"
Segeralah berpartisipasi siapa tahu anda yang menjadi juara , ingat pepatah " MENYESAL SELALU DATANG DIKEMUDIAN HARI"
Saya tidak pernah merasa gagah seperti Rambo, saya tidak pernah merasa ganteng seperti Nicholas Saputra, saya tidak pernah merasa keren seperti kawan saya Adhirga Romadona yang duta wisata dari Banjarnegara , Saya juga tidak pernah merasa sangar seperti kakak angkatan saya Ardi Wilda, Namun saya sering bertanya-tanya, mengapa kehidupan saya selalu dikelilingi oleh gadis-gadis? apakah ini takdir? Saya tidak tahu mengapa semua ini terjadi dan juga tidak pernah berharap mendapatkan semua ini. Ya sudahlah jika memang saya ditakdirkan untuk dikelilingi oleh gadis-gadis saya akan menerima dengan ikhlas dan semoga membawa manfaat bagi kelangsungan hidup umat manusia dan alam semesta. Saya hanya bisa berucap syukur Alhamdulillah
Di kampus fisipol UGM, tepatnya di dekat taman politik terdapat sebuah patung yang berdiri gagah dipinggir kolam ikan. Patung tersebut merupakan patung dari dua orang mahasiswa dan satu orang mahasiswi yang sedang asyik membaca buku. Ada berbegai versi yang menceritakan patung ini, ada yang mengatakan bahwa itu adalah mahasiswa yang sedang belajar untuk UAS, ada yang mengatakan itu adalah patung mahasiswa pria yang sedang mencoba memikat hati seorang wanita dengan memamerkan keahlian membaca buku, dan ada pula yang menceritakan bahwa itu adalah sekelompok mahasiswa nakal yang sedang asyik membaca buku stensil. Namun dari berbagai macam cerita yang beredar ada sebuah cerita yang cukup menarik dan lebih masuk akal yang dapat menceritakan asal-usul patung tersebut. Begini ceritanya.....
Pada suatu siang yang cerah, ada tiga orang mahasiswa yang sedang asyik belajar. Mereka sedang belajar untuk mempersiapkan presentasi mata kuliah Teori Komunikasi di keesokan paginya. Untuk mempersiapkan hal tersebut mereka belajar dengan sungguh-sungguh agar semua senang, dosen senang, mahasiswa senang, dan mereka sendiri juga senang. Ketika sedang asyik membahas mengenai teori peluru, tiba-tiba datanglah monster onde-onde di kampus fisipol. Monster onde-onde merupakan monster mengerikan dan jahatnya tanpa ampun, ia bisa merubah apa saja yang ada didepannya menjadi patung. Lalu monster onde-onde berkata "Mana Satria Baja Hitam!!! Saya ingin beradu Congklak dengannya!!! jika ia tidak datang dalam waktu 10 menit akan saya buat kampus ini menjadi patung Semua!!!" , begitulah ancaman dari monster onde-onde. Mendengar ancaman itu warga kampus fisipol menjadi panik dan segera meninggalkan kampus fisipol untuk menyelamatkan diri. Lalu, bagaimana dengan ketiga mahasiswa yang sedang belajar tersebut? ternyata mereka sedang asyik belajar dan mengira monster onde-onde adalah kawan mereka yang sedang bermain cosplay. Berhubung mereka sedang mempelajari teori peluru, mereka mengira monster onde-onde adalah kawan mereka yang terpengaruh tayangan televisi dan kemudian mencoba membuat kostum seperti monster-monster yang ada di televisi. Akibatnya merekapun tetap asyik belajar dan tidak menghiraukan bahaya yang sudah menghadang di depan mata mereka.
Perjalanan dari tempat senam hingga kampus fisipol diperkirakan mencapai 8 menit saja, namun apa yang terjadi....ketika memasuki area UGM baja hitam dihadang pos pengecekan KIK dimana setiap orang yang akan memasuki wilayah UGM harus menunjukkan KIK atau membayar biaya masuk kendaraan sebesar 1000 rupiah. Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak, bajahitam bukan mahasiswa UGM dengan begitu ia tidak punya KIK, tidak hanya itu bajahitam juga tidak pernah membawa uang kareana di kostum yang ia kenakan tidak ada saku untuk meletakkan dompet, jadilah ia tidak bisa memasuki kawasan UGM menggunakan belalang tempur kesayangannya. Baja hitampun pun kemudian memarkir motornya di dekat pos pengecekan KIK dan berjalan kaki menuju kampus Fisipol.
Sepertinya kali ini dewi fortuna tidak berpihak pada bajahitam, akibat tidak bisa memasuki kampus fisipol dengan sepeda motor ia menghabiskan waktu yang lebih lama untuk sampai ke kampus fisipol. Akibatnya yang tadinya kampus fisipol bisa ditempuh dengan 8 menit saja kini ia harus menghabiskan 15 menit untuk sampai ke kampus fisipol, itu saja sudah berlari dengan kecepatan secepat belalang melompat. Lalu, bagaimana dengan monster onde-onde? karena tidak keinginannya tidak terpenuhi untuk bertemu dengan bajahitam dalam waktu 10 menti, ia merubah siapa saja yang ada didepan matanay menjadi patung. Pada waktu itu yang tersisa di kampus fisipol tinggal tiga mahasiswa yang sedang belajar teori komunikasi, karena mahasiswa lainnya sudah kabur menyelamatkan diri lebih dahulu. Jadilah tiga mahasiswa tersebut dijadikan patung oleh monster onde-onde, sungguh kasihan sekali nasib ketiga mahasiswa tersebut. Ternyata merubah ketiga mahasiswa menjadi patung menghabiskan banyak tenaga, monster onde-onde pun capeknya bukan main karena capek kemudian monster onde-onde pergi ke panti pijat untuk menghilangkan rasa lelah. Setelah monster onde-onde lenyap dari kampus Fisipol barulah bajahitam sampai kampus tersebut dengan terengah-engah karena berlari dari bunderan UGM hingga kampus Fisipol. Bajahitampun menyesal karena ia gagal menyelamatkan mahasiswa malang tersebut dari serangan monster onde-onde. Agar hal tersebut tidak terulang lagi kemudian bajahitam mendaftar UM-UGM agar bisa diterima di kampus ugm, dengan begitu ia bisa punya KIK dan dapat bebas masuk keluar kampus dengan belalang tempurnya. Alhamdulillah bajahitam diterima di UGM Jurusan Ilmu Miskomunikasi dan ia bisa membuat KIK.
patung fisipol yang legendaris
Pada suatu siang yang cerah, ada tiga orang mahasiswa yang sedang asyik belajar. Mereka sedang belajar untuk mempersiapkan presentasi mata kuliah Teori Komunikasi di keesokan paginya. Untuk mempersiapkan hal tersebut mereka belajar dengan sungguh-sungguh agar semua senang, dosen senang, mahasiswa senang, dan mereka sendiri juga senang. Ketika sedang asyik membahas mengenai teori peluru, tiba-tiba datanglah monster onde-onde di kampus fisipol. Monster onde-onde merupakan monster mengerikan dan jahatnya tanpa ampun, ia bisa merubah apa saja yang ada didepannya menjadi patung. Lalu monster onde-onde berkata "Mana Satria Baja Hitam!!! Saya ingin beradu Congklak dengannya!!! jika ia tidak datang dalam waktu 10 menit akan saya buat kampus ini menjadi patung Semua!!!" , begitulah ancaman dari monster onde-onde. Mendengar ancaman itu warga kampus fisipol menjadi panik dan segera meninggalkan kampus fisipol untuk menyelamatkan diri. Lalu, bagaimana dengan ketiga mahasiswa yang sedang belajar tersebut? ternyata mereka sedang asyik belajar dan mengira monster onde-onde adalah kawan mereka yang sedang bermain cosplay. Berhubung mereka sedang mempelajari teori peluru, mereka mengira monster onde-onde adalah kawan mereka yang terpengaruh tayangan televisi dan kemudian mencoba membuat kostum seperti monster-monster yang ada di televisi. Akibatnya merekapun tetap asyik belajar dan tidak menghiraukan bahaya yang sudah menghadang di depan mata mereka.
mahasiswa fisipol yang sedang asyik belajar kelompok
monster onde-onde yang bisa merubah apa saja menjadi patung. Dia ingin beradu congklak dengan satria bajahitam, jika keinginannya tidak dipenuhi ia akan merubah siapa saja yang didepannya menjadi patung
Ditempat lain bajahitam sedang asyik melakukan senam SKJ (senam kesehatan Jasmani) agar tubuhnya selalu sehat dan bugar. Sedang asyik-asyiknya melakukan gerakan senam, indra belalangnya memberikan sinyal bahwa sedang ada bahaya di kampus fisipol. Dengan sigap bajahitam kemudian naik ke atas belalng tempur dan memacu motornya di tengah keramaian kota jogja dengan kecepatan maksimal agar sampai tujuan dengan tepat waktu karena bajahitam adalah orang jepang yang membenci jam karet.
Baja hitam sedang asyik senam SKJ agar badannya tetap sehat dan bugar
mendengar adanya marabahaya di kampus fisipol, bajahitam langsung memacu belalang tempur dengan kecepatan maksimal di tengah keramaian kota jogja
Perjalanan dari tempat senam hingga kampus fisipol diperkirakan mencapai 8 menit saja, namun apa yang terjadi....ketika memasuki area UGM baja hitam dihadang pos pengecekan KIK dimana setiap orang yang akan memasuki wilayah UGM harus menunjukkan KIK atau membayar biaya masuk kendaraan sebesar 1000 rupiah. Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak, bajahitam bukan mahasiswa UGM dengan begitu ia tidak punya KIK, tidak hanya itu bajahitam juga tidak pernah membawa uang kareana di kostum yang ia kenakan tidak ada saku untuk meletakkan dompet, jadilah ia tidak bisa memasuki kawasan UGM menggunakan belalang tempur kesayangannya. Baja hitampun pun kemudian memarkir motornya di dekat pos pengecekan KIK dan berjalan kaki menuju kampus Fisipol.
setelah memarkinkan motornya, bajahitam kemudian berjalan kaki menuju kampus Fisipol
Sepertinya kali ini dewi fortuna tidak berpihak pada bajahitam, akibat tidak bisa memasuki kampus fisipol dengan sepeda motor ia menghabiskan waktu yang lebih lama untuk sampai ke kampus fisipol. Akibatnya yang tadinya kampus fisipol bisa ditempuh dengan 8 menit saja kini ia harus menghabiskan 15 menit untuk sampai ke kampus fisipol, itu saja sudah berlari dengan kecepatan secepat belalang melompat. Lalu, bagaimana dengan monster onde-onde? karena tidak keinginannya tidak terpenuhi untuk bertemu dengan bajahitam dalam waktu 10 menti, ia merubah siapa saja yang ada didepan matanay menjadi patung. Pada waktu itu yang tersisa di kampus fisipol tinggal tiga mahasiswa yang sedang belajar teori komunikasi, karena mahasiswa lainnya sudah kabur menyelamatkan diri lebih dahulu. Jadilah tiga mahasiswa tersebut dijadikan patung oleh monster onde-onde, sungguh kasihan sekali nasib ketiga mahasiswa tersebut. Ternyata merubah ketiga mahasiswa menjadi patung menghabiskan banyak tenaga, monster onde-onde pun capeknya bukan main karena capek kemudian monster onde-onde pergi ke panti pijat untuk menghilangkan rasa lelah. Setelah monster onde-onde lenyap dari kampus Fisipol barulah bajahitam sampai kampus tersebut dengan terengah-engah karena berlari dari bunderan UGM hingga kampus Fisipol. Bajahitampun menyesal karena ia gagal menyelamatkan mahasiswa malang tersebut dari serangan monster onde-onde. Agar hal tersebut tidak terulang lagi kemudian bajahitam mendaftar UM-UGM agar bisa diterima di kampus ugm, dengan begitu ia bisa punya KIK dan dapat bebas masuk keluar kampus dengan belalang tempurnya. Alhamdulillah bajahitam diterima di UGM Jurusan Ilmu Miskomunikasi dan ia bisa membuat KIK.
akhirnya baja hitam diterima di UGM dan bisa membuat KIK
Sekian cerita saya mengenai asal usul patung di kampus fisipol, semoga bisa menambah wawasan dan mengisi waktu luang :)

Sepatu yang biasa saya gunakan untuk berseluncur ria sudah hancur, lubang sebesar biji salak menghiasi bagian samping kanan. Melihat hal tersebut insting lelaki saya mengatakan bahwa saya harus membeli sepatu baru, namun apa boleh dikata uang saya sangat terbatas apalagi untuk membeli sepasang sepatu skate yang harganya bisa diatas 500 ribu rupiah untuk merk luar sedangkan 200 ribuan merk lokal. Akhirnya dengan kantong pas2an saya membeli sepatu bajakan seharga 80rb rupiah di lapak pinggir selokan mataram. sepatu yang saya beli ini sejenis bajakannya Vans anti hero, memang sih banyak beredar sepatu bajakan berlabel KW yg harganya agak lebih mahal dengan kualitas lebih baik, tapi sekali bajakan ya bajakan, tetep aja sampah.Yaudah saya beli yang ini aja toh paling beberapa bulan juga hancur lagi.
Berhubung saya respect sama Paul Van Doren yang sudah mati-matianan mbesarin nama Vans dan tentunya support mereka pada dunia skateboarding yang cukup besar, saya memodifikasi sepatu bajakan vans ini biar nggak jadi vans. Hal yang pertama yang wajib dilakukan adalah melepas garis melintang yang menjadi ciri khas sepatu vans, selanjutnya menutupi segala jenis atribut yang menunjukkan in sepatu vans dengan spidol. Jadilah sekarang "Blank Shoes", selanjutnya saya beri sedikit sentuhan artistik yang sok nyeni biar kelihatan trendi dengan menggunakna tipe X yang saya temu di kepel (salah satu tempat di kampus saya). dan jadilah sepatu dengan merk AS HOL, AS HOL merupakan akronim dari Anak Sholeh.
Ya begitulah sepenggal cerita bagaimana bisa bertahan di dunia skateboarding dengan dana yang cukup minim, tentunya juga tetap terihat stylish dan trendi


























