Akhir-akhir ini dunia terasa sangat monoton. Kalo punya FB coba deh lihat timeline isinya apa. Semua ngomongin hal yang sama mulai dari pernikahan yang dikunjungi mantan hingga mentri baru yang terlihat nyentrik itu. Tampaknya orang-orang kurang hiburan sehingga pikirannya mudah sekali dipengaruhi oleh portal berita sampah yang pasang postingan berbayar di social media milik Mark Zuckerberg.
Oleh karena itu, saya sajikan beberapa video pilihan yang sekiranya bisa menghibur Anda semua agar hidup lebih santaii. Semoga terhibur ya~~~
Oleh karena itu, saya sajikan beberapa video pilihan yang sekiranya bisa menghibur Anda semua agar hidup lebih santaii. Semoga terhibur ya~~~
Enam tahun yang lalu pada tahun 2008 tepatnya, saya memasuki masa kuliah. Kebetulan saya berkuliah di kota yang sama dengan tempat tinggal saya, Jogja. Saya nggak perlu ngekos dan bisa tinggal dengan nyaman di rumah.
Di sana saya bertemu dengan teman-teman dari berbagai kota. Hampir sebagian besar dari mereka tinggal di kosan. Ketika saya berkenalan dengan mereka dan mengatkan bahwa saya asli jogja dan tinggal di rumah, banyak yang berkomentar "Wah enak ya tinggal di rumah, makanan terjamin." atau "wah enak ya bisa makan makanan rumah tiap hari".
Saat itu saya ngerasa biasa aja. Nggak ada yang spesial dari masakan rumah. Bahkan cenderung bosan, karena masakannya itu-itu aja.
Lima tahun kemudian saya memutuskan untuk hijrah ke Jakarta, mengejar mimpi yang saya idam-idamkan sejak kuliah. Sejak saat itu pula saya tinggal di kos dan hidup mandiri.
Berhubung di kosan saya nggak ada dapur, untuk urusan makan saya bergantung pada warteg dekat kosan. Meskipun rasanya nggak sempurna, tapi oke lah buat mengganjal perut. Apa lagi buat kantong pekerja yang sedang merintis karir seperti saya.
Awalnya nggak ada masalah dengan makan di luar. Seminggu sekali bisa lah makan makanan yang agak mahal dikit. Kemudian masalah datang ketika saya jatuh sakit. Dengan keadaan saya yang sedang sakit sungguh sangat tidak enak harus keluar kamar buat beli makan. Belum lagi makanan yang beli di luar nggak terjamin kebersihan dan kesehatannya. Pokoknya harus banyak-banyak baca bismillah deh.
Di kondisi ini saya sadar betapa nikmatnya bisa makan masakan rumah dan nggak perlu beli di luar. Saya jadi teringat ucapan teman saya sewaktu perkenalan mahasiswa baru enam tahun lalu "tinggal di rumah ya? wah enak ya bisa makan masakan rumah."
Tak ada yang bisa mengalahkan lezatnya masakan istri. Dibuat dengan kelembutan dan bumbu kasih sayang, membuatnya menjadi pelipurlara hati yang dilanda kegalauan tiada henti. Meskipun dimasak dengan bahan dan bumbu seadanya tak mengurangi nikmatnya makan masakan istri. Pokoknya tak ada yang bisa mengalahkan lezatnya masakan istri.
Mbak Siti adalah seorang istri.
Mbak Siti punya warteg.
Oleh karena itu saya suka makan di warteg Mbak Siti agar bisa merasakan masakan istri.
Alhamdulillah.
Yuk makan.
Saya memiliki banyak teman dari berbagai lingkaran pertemanan kayak temen SD, temen SMP, temen SMA, temen kuliah, temen main skateboard, temen les, temen seprofesi, temen kantor, temen lomba, pokoknya banyak deh. Nah dari berbagai temen yang saya kenal ada beberapa yang wajahnya mirip artis. Ini membuat saya terinspirasi buat bikin seri postingan tentang temen-temen saya yang mirip artis dan ini postingan pertamanya.
Di postingan pertama ini saya mau cerita tentang teman saya yang mirip artis. Saya kenal dia waktu kuliah di komunikasi UGM. Anaknya lumayan pendiem, baik dan ga neko-neko. Wajar aja kalo jadi idola gadis-gadis.
Mau tau siapa orangya?
ini dia orangnya
Namanya Nur Arief Hidyat, nama panggilannya Arie. Sejak pertama kali saya kenal dia saya ngerasa kok kayak dah pernah liat ya tapi saya juga ga tau kayak pernah liat dimana. Sampai suatu ketika saya baca artikel tentang salah satu band yang sedang digandrungi para remaja Indonesia yang bernama RAN dan gitarisnya mirip banget sama temen saya itu. Coba deh bandingin foto di atas sama foto di bawah.
Gimana? mirip kaaaan.
Sering kali kita berada di keadaan yang tidak mengenakkan.
Kecewa, marah, putus asa, berbagai rasa kurang enak bercampur menjadi satu membuat kita tidak bisa menikmati hari-hari.
Tak jarang juga kita menyalahkan sekitar atas kesusahan yang kita alami seakan lingkungan sekitar yang harus bertanggung jawab atas kesusahan ini.
Nilai jelek nyalahin dosen yang nyebelin.
Gaya hidup boros nyalahin teman yang suka ngajak nongkrong.
Nggak puas sama kerjaan nyalahin suasana kantor terlalu kaku.
Muka jelek nyalahin cermin yang *loh*
dan lain sebagainya.
Intinya kita menyalahkan orang lain atas kekecewaan yang dialami.
Sampai pada suatu hari, adik kelas saya di kampus nge-twit begini:
Tweet dari Sekar seakan mengingatkan kita untuk bercermin pada diri sendiri sebelum menyalahkan orang lain.
Jadi ingat sebuah cerita.
"Pada suatu hari ada seorang tukang kayu yang sangat ahli perkayuan. Dia bisa membuat perabotan rumah tangga apa saja dengan bahan kayu. Suatu saat dia kehilangan pensilnya. Bagi dia pensil tersebut sangat berguna untuk mendesain perabotan yang dia buat. Sudah dicari kemana-mana dia tetap tidak bisa menemukan pensil tersebut. Akhirnya ia menuduh orang-orang sekitarnya mencuri pensil tersebut. Dari sekian banyak orang yang dia tuduh tak ada satu pun yang mau mengaku. Akhirnya dia kecapekan dan ke kamar mandi untuk cuci muka. Di saat melihat ke cermin, terlihat pensilnya terselip di telinga tukang kayu tersebut. Pensilnya ketemu tetapi dia sudah terlanjur menuduh orang-orang. Orang-orang yang tersinggung karena telah dituduh tidak mau lagi membuat perabot di tukang kayu itu."
Sekali lagi jangan lupa bercermin pada diri sendiri sebelum menumpahkan kekecewaan pada orang lain.
Bisa jadi nilai kita jelek karena kita tidak serius mempelajari mata kuliah yang diambil
Bisa jadi gaya hidup boros karena kita terlalu gengsi.
Bisa jadi nggak puas sama kerjaan karena kita setengah-setengah dalam bekerja
Begitu.
Ya nggak?
Kecewa, marah, putus asa, berbagai rasa kurang enak bercampur menjadi satu membuat kita tidak bisa menikmati hari-hari.
Tak jarang juga kita menyalahkan sekitar atas kesusahan yang kita alami seakan lingkungan sekitar yang harus bertanggung jawab atas kesusahan ini.
Nilai jelek nyalahin dosen yang nyebelin.
Gaya hidup boros nyalahin teman yang suka ngajak nongkrong.
Nggak puas sama kerjaan nyalahin suasana kantor terlalu kaku.
Muka jelek nyalahin cermin yang *loh*
dan lain sebagainya.
Intinya kita menyalahkan orang lain atas kekecewaan yang dialami.
Sampai pada suatu hari, adik kelas saya di kampus nge-twit begini:
Aku dulu pernah marah marah karena internet speedy ga bisa nyambung nyambung, sampai akhirnya protes. Ternyata aku belum bayar speedy. Hhe.
— Sekar Bestari (@sekar_b) March 9, 2014
Pelajaran yang dapat dipetik adalah kita harus melihat diri sendiri terlebih dahulu. Sekian. Makasih speedy.
— Sekar Bestari (@sekar_b) March 9, 2014
Tweet dari Sekar seakan mengingatkan kita untuk bercermin pada diri sendiri sebelum menyalahkan orang lain.
Jadi ingat sebuah cerita.
"Pada suatu hari ada seorang tukang kayu yang sangat ahli perkayuan. Dia bisa membuat perabotan rumah tangga apa saja dengan bahan kayu. Suatu saat dia kehilangan pensilnya. Bagi dia pensil tersebut sangat berguna untuk mendesain perabotan yang dia buat. Sudah dicari kemana-mana dia tetap tidak bisa menemukan pensil tersebut. Akhirnya ia menuduh orang-orang sekitarnya mencuri pensil tersebut. Dari sekian banyak orang yang dia tuduh tak ada satu pun yang mau mengaku. Akhirnya dia kecapekan dan ke kamar mandi untuk cuci muka. Di saat melihat ke cermin, terlihat pensilnya terselip di telinga tukang kayu tersebut. Pensilnya ketemu tetapi dia sudah terlanjur menuduh orang-orang. Orang-orang yang tersinggung karena telah dituduh tidak mau lagi membuat perabot di tukang kayu itu."
Sekali lagi jangan lupa bercermin pada diri sendiri sebelum menumpahkan kekecewaan pada orang lain.
Bisa jadi nilai kita jelek karena kita tidak serius mempelajari mata kuliah yang diambil
Bisa jadi gaya hidup boros karena kita terlalu gengsi.
Bisa jadi nggak puas sama kerjaan karena kita setengah-setengah dalam bekerja
Begitu.
Ya nggak?
Beberapa waktu yang lalu saya sempat melihat teman saya memposting sebuah iklan shampoo pencegah kebotakan di facebook.
Sungguh menyedihkan, Ade Rai yang gagah perkasa dibuat sedemikian rupa agar terlihat botak setengah. Dalam sekejap kegagahan Ade Rai sirna karena botak yang cuma setengah.
Saya jadi kepikiran, apa jadinya kalo si Ade Rai dibotakin sekalian? apakah masih terjaga kegagahannya. Kemudian dengan kemampuan photoshop standar saya coba foto tadi jadi botak seluruhnya.
Hasilnya? ternyata dia tetap terlihat gagah!
Jika membandingkan dua gambar tersebut bisa kita tarik kesimpulan bahwa melakukan sesuatu setengah-setengah bukan lah hal yang baik. Oleh karena itu lakukan segalanya sampai tuntas!
Sungguh menyedihkan, Ade Rai yang gagah perkasa dibuat sedemikian rupa agar terlihat botak setengah. Dalam sekejap kegagahan Ade Rai sirna karena botak yang cuma setengah.
Saya jadi kepikiran, apa jadinya kalo si Ade Rai dibotakin sekalian? apakah masih terjaga kegagahannya. Kemudian dengan kemampuan photoshop standar saya coba foto tadi jadi botak seluruhnya.
Hasilnya? ternyata dia tetap terlihat gagah!
Jika membandingkan dua gambar tersebut bisa kita tarik kesimpulan bahwa melakukan sesuatu setengah-setengah bukan lah hal yang baik. Oleh karena itu lakukan segalanya sampai tuntas!
Hore....setelah sekian lama menggunakan template standar dari blogger akhirnya saya memberanikan untuk mencoba template lain. Oke nggak tampilannya? oke kan? hehehe....
Awalnya agak ragu mau pake template selain yang disediain blogger. Setelah nyoba dan beberapa kali gagal akhirnya jadi juga template baru ini.
Semoga dengan penggantian template ini saya bisa lebih rajin nge-blog, kayaknya di 2014 ini saya jarang banget nulis. Sedih lah padahal kerjaan saya nulis tapi kok jarang banget nulis di blog. Sungguh ironis.
Mengawali tahun baru 2014 ini saya iseng-iseng bikin project tumblr baru, namanya griyagifmatahari.tumblr.com. Jadi griyagifmatahari.tumblr.com itu tumblr kumpulan gif-gif bikinan saya baik yang bikin sendiri maupun cuma motong dari video (beberapa sudah pernah saya tampilkan di blog ini). Btw namanya Orba banget gak sih? :p









