Setahun yang lalu Indonesia mengadakan
festival akbar 5 tahunannya. Sebagian orang bersukacita menyambut festival tersebut, sebagian lagi menyikapinya
dengan apatis. Festival demokrasi katanya.
Menurut saya sih festivalnya seru.
Pertamakalinya saya lihat, orang-orang pada excited untuk memberi dukungan pada
pilihan mereka. Hal yang tidak pernah saya lihat sebelumnya. Meskipun dalam
perjalannya banyak dipenuhi dengan drama dan berbagai adu domba yang mengancam
persatuan umat namun pada akhirnya semua berjalan aman terkendali. Sampai akhirnya
pemenang ditentukan, dan keluarlah nama Joko Widodo a.k.a jokowi sebagai
juaranya.
Setahun berlalu, banyak hal yang terjadi. Ternyata sang pemenang
tidak bisa memenuhi harapan banyak orang. Tentu hal ini menjadi amunisi bagi
lawan politik dan pengikut mereka untuk membuat suasana makin panas. Wacana
“Jokowi mundur” pun banyak terdengar. Hal ini diperparah dengan media-media
pemburu klik yang sering membuat berita-berita dengan headline provokatif dan orang-orang awam yang dengan mudah menjadi korban informasi-informasi tidak bertanggung jawab tersebut.
Suasana makin panas.
Hal ini ditambah dengan banyaknya kebijakan-kebijakan kontroversial yang akan diberlakukan. Seperti kebijakan yang akan mengebiri KPK itu, dan masih banyak lagi. Lah piye kui.
Ibarat percikan api bukannya dicegah malah disiram dengan bensin. Tambah panas kan?
Ditengah suasana yang makin panas sih, saya
setuju jokowi mundur.
Kasihan kalo di atas panggung terus doi
kepanasan.

