Tahun ini
umur saya menuju 26, begitu juga dengan teman-teman saya. Semakin bertambah
usia semakin sering saya mendengar kegelisahan yang terucap dari orang-orang
sekitar, bahkan dari hati saya sendiri.
“Umur udah 25 tapi hidup masih gini-gini
aja.”
“temenku udah keliling dunia tapi aku masih
disini-sini aja.”
“Duh umur udah hampir 26 tapi belum punya
modal apa-apa buat kawin.”
Dan berbagai
kegelisahan lainnya.
Kegelisahan
muncul ketika kita membandingkan diri dengan orang lain. Membandingkan orang-orang yang sudah sukses
lebih dahulu dan secara tidak sadar menjadikan ini sebagai patokan hidup ideal.
Ketika kita tidak bisa mencapainya di umur tertentu lalu menanggap bahwa
kita adalah orang yang gagal. Kegelisahan pun muncul.
Kegelisahan
memang tiada habisnya jika kita selalu membandingkan hidup kita dengan orang
lain yang lebih sukses dan semakin menjadi ketika kita menjadikannya patokan
hidup yang ideal.
Tapi...jangan
berkecil hati dahulu jika kita sering merasa gelisah atas pencapaian dalam
hidup.
Kegelisahan
adalah anugerah.
Ketika kita
gelisah itu berarti kita sadar ada banyak hal yang harus dikejar di dunia yang
berputar dengan sangat cepat ini.
Tentunya kegelisahan
hanya akan menjadi kegelisahan jika kita tidak melakukan sesuatu.
Gelisah
karena melihat teman-teman sudah sukses dengan bisnisnya sendiri sedangkan kita masih bekerja dengan gaji yang segitu-gitu aja, maka kita
akan mencari peluang untuk memulai bisnis kita sendiri.
Gelisah melihat teman sudah berada di posisi mentereng di kantornya sedangkan kita masih gini-gini aja, maka kita
akan bekerja lebih giat untuk mendapatkan posisi yang sama.
Intinya
adalah bukan apa yang dicapai dari kegelisahan itu tapi apa yang dilakukan
ketika kita tergerak oleh kegelisahan.
Bayangkan
saja kalau kita tidak pernah merasakan kegelisahan semacam itu dan baru
tersadar ketika usia sudah tidak muda lagi.Waktu tak bisa diputar ke belakang Bung!
Jadi apa
kegelisahanmu hari ini?


